Apa itu autis

Posted: June 1, 2010 in Pengetahuan
Tags:

Autisme pada dasarnya adalah suatu kelainan biologis pada penyandangnya. Pada saat ini autisme dikategorikan sebagai “biological disorder”, dalam arti bahwa autisme bukan merupakan gangguan psikologis. Lebih spesifik dapat dikatakan bahwa autisme adalah suatu gangguan perkembangan karena adanya kelainan pada sistem saraf penyandangnya (neurological or brain based development disorder). Kelainan ini menimbulkan gangguan, antara lain gangguan komunikasi, interaksi sosial, serta keterbatasan aktivitas dan minat.
Autisme pada saat ini sudah dikategorikan sebagai suatu epidemik di beberapa negara. Hal ini dikarenakan terjadinya kecenderungan pertambahan jumlah penyandang autisme yang pesat setiap tahunnya, bahkan sumber tertentu menyatakan bahwa angka pertumbuhannya mencapai 1000%. Dengan kata lain, angka pertumbuhan penyandang autisme terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Hal ini berbeda dengan angka pertumbuhan penyandang kelainan genetik lainnya yang cenderung stabil dari waktu ke waktu. Rasio penyandang autisme pada tahun 1987 adalah 5000:1 (dalam 5000 kelahiran anak dijumpai 1 anak yang menyandang autisme), tahun 1997 terjadi peningkatan menjadi 500:1, dan pada tahun 2000 terjadi peningkatan kembali yaitu 150:1, sedangkan laporan WHO tahun 2005 menunjukkan perbandingan 100:1. Sebagaimana dilaporkan National Institute of Mental Health (NIMH), WHO memprediksi pada tahun 2020, gangguan neuropsikiatrik (termasuk autisme) terhadap anak di seluruh dunia akan meningkat 50 %.

Gangguan autisme lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Penyebab mengapa anak laki-laki memiliki kecenderungan lebih mudah mengidap autisme daripada anak perempuan belum diketahui secara pasti, namun ada teori yang menyebutkan bahwa anak perempuan mempunyai hormon estrogen lebih banyak dibandingkan anak laki-laki, yang mana hormon ini dapat melindungi otak dari berbagai hal yang dapat meracuninya. Dibutuhkan kajian dan penelitian ilmiah lebih lanjut untuk menyelidiki hal tersebut.

A.  Faktor Penyebab
Penyebab autisme sampai saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan praktisi kesehatan. Sejauh ini, imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) dengan vaksinasinya yang mengandung merkuri (Hg)diduga menjadi salah satu pemicu autisme. Akan tetapi, hal tersebut belum bisa dipastikan. Kelainan pada neuroanatomi (anatomi susunan saraf) menjadi salah satu faktor penyebab autisme. Eric Courchesne, seorang ilmuwan saraf dari University ofCalifornia, San Diego, pada awal tahun 1990 menemukan adanya pengecilan serebelum (otak kecil) pada anak autisme, di mana jumlah sel Purkinjejauh lebih sedikit. Sel sel Purkinje merupakan elemen penting dalam sistem integrasi informasi yang masuk ke dalam otak. Tanpa sel tersebut, serebelum tidak dapat melakukan fungsinya untuk menerima informasi dari luar sehingga fungsi otakpun menjadi kacau. Berkurangnya sel-sel purkinje pada serebelum diduga menyebabkan ketidakteraturan beberapa fungsi yang menyebabkan abnormalitas pada anak autisme, yaitu perhatian yang tidak terarah dan gangguan pengolahan sensorik. Berdasarkan penemuan Dr. Margaret Bauman, ahli ilmu saraf anak di Harvard Medical School, pada anak autisme didapati adanya kelainan struktur pada sistem limbik(meliputi amigdala dan hippokampus) yang merupakan pusat emosi dalam otak.

Melalui teknologi MRI (Magnetic Resonance Imaging), diketahui bahwa pada otak anak autisme menunjukkan sebagian besar amygdala (pusat emosi dalam otak) rusak dan ukurannya lebih kecil dari ukuran normal. Akibat kerusakan tersebut, berpengaruh terhadap respons perilaku anak  akibat emosinya  terganggu.  Di samping cerebellum, bagian otak yang banyak didapati mengalami gangguan yaitu korteks serebri, sistem limbik, korpus kalosum, ganglia basalis, dan batang otak.

Hasil studi juga menunjukkan adanya pengaruh faktor genetika. Pada anak autisme menunjukkan kelainan pada kromosomnya, yang didapat dari gen ayah atau ibu. Di antaranya pada kromosom 7 terdapat sejumlah gen yang terkait dengan autisme, misalnya gen FOXP2. Kelainan bicara pada autisme diduga karena gen FOXP2 rusak.

Stimulasi lingkungan yang buruk juga bisa menjadi faktor lain yang memicu autisme, seperti adanya pencemaran udara dan air yang banyak mengandung zat-zat kimia beracun. Dari hasil penelitian, 80% penyandang autisme di Indonesia mengalami keracunan logam berat seperti merkuri, timbal, kadmium.  Logam-logam berat tersebut mempunyai sifat sebagai neurotoxin (racun terhadap sel saraf).

* Merkuri (Hg) yang dihasilkan dalam limbah pabrik maupun limbah pertambangan yang dibuang ke dalam perairan akan berikatan dengan klor pada air laut membentuk metil merkuri. Metil merkuri biasanya terdapat dalam jaringan daging ikan. Saat ini perairan laut Indonesia sudah penuh dengan merkuri, sehingga ikan-ikan dan makhluk laut lainnya juga sudah tercemar merkuri tersebut. Seorang ibu hamil yang keracunan merkuri berisiko melahirkan bayi autisme. Merkuri terutama merusak mielin (selaput pelindung saraf) sehingga sel-sel saraf otak tampak seperti kabel-kabel listrik yang terbuka dan rusak serta tidak berfungsi dengan baik. Logam berat ini juga dapat masuk melalui vaksin yang memakai ethyl mercuri.

* Kadmium dari batu baterei maupun timbal yang tinggi dalam asap knalpot dapat menghambat  perkembangan sistem saraf dan otak pada janin.

* Pencemaran udara juga dapat memicu terjadinya hujan asam. Sumber air dan tumbuhan yang terkontaminasi hujan asam apabila dikonsumsi manusia dapat berbahaya bagi kesehatan.

* Selain melalui pencemaran udara dan air, zat-zat kimia berbahaya juga dapat masuk melalui zat aditif seperti pengawet (borak, formalin) dan pewarna industri, seperti yang saat ini banyak disalahgunakan, yaitu digunakan dalam makanan dan minuman.

Akibat berbagai logam berat yang terpapar dan masuk ke dalam tubuh selanjutnya akan meracuni saraf pusat sehingga memicu autisme.

Faktor pencetus autisme juga dapat terjadi karena adanya gangguan selama kehamilan, yaitu pada waktu:

* Prenatal ( di dalam kandungan)
Pada usia kehamilan 3-4 bulan, terjadi gangguan struktur susunan saraf pusat yang berdampak pada terganggunya fungsi otak, sehingga sejak lahir, seorang bayi menunjukkan gejala autisme. Hal ini dapat disebabkan karena ibu hamil mengkonsumsi obat-obatan keras atau obat untuk menggugurkan kandungan, atau dapat dikarenakan ibu hamil mengalami keracunan logam berat (merkuri), terinfeksi virus Rubella, herpes, CMV, toxoplasma, atau jamur.

* Perinatal (saat melahirkan).
Saat kelahiran dapat terjadi trauma yang menyebabkan otak anak kekurangan oksigen dalam jumlah banyak. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh proses kelahiran yang sulit dan lama, bayi terbelit tali pusat dan tersedak air ketuban.
* Pascanatal (selama 3 tahun pertama)
Pada masa anak-anak terinfeksi virus, jamur, atau bakteri yang menyerang usus dan otak.

B. Ciri-Ciri Autisme
Ciri-ciri anak autisme dapat dikelompokkan dalam ciri-ciri yang dominan terdapat pada anak autisme maupun ciri-ciri lainnya yang diuraikan sebagai berikut.

Ciri-ciri Dominan
1.   Gangguan komunikasi dan kontak sosial

* Sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik verbal maupun nonverbal
* Sering menggunakan “bahasa planet” atau bergumam tidak jelas.
* Kesulitan verbalisasi atau justru sebaliknya banyak berkata-kata atau bernyanyi tanpa mengerti artinya.
* Gangguan bicara lain yang sangat kentara yaitu kecenderungan untuk mengulang kata-kata yang didengarnya/membeo.
* Cuek, tidak ada respons pada orang di lingkungan sekitarnya, cenderung penyendiri dan asyik dalam dunianya sendiri.
* Kurangnya kontak mata.
* Sering merasa bingung dan ketakutan.
* Keterbelakangan mental dan sosial.

2.    Munculnya perilaku self stimulatory

*  Selalu menggelengkan kepala.
* Mempermainkan jari tangan di depan mata dengan jarak yang sangat dekat.
* Seringkali bertepuk-tepuk tangan, menepuk-nepuk dada, kepala, atau rahang.
* Berjalan menjinjit.
* Agresif, cenderung berperilaku yang membahayakan seperti membentur-benturkan kepala atau pergelangan tangan ke tembok, memukul-mukul muka/wajah.
* Sering memukul/menutup telinga.

Ciri-ciri Lain
Selain ciri-ciri dominan yang telah disebutkan sebelumnya, pada anak autisme juga seringkali ditemukan ciri-ciri lain sebagai berikut : tertawa atau menangis tanpa sebab, berteriak-teriak, fokus kepada benda-benda yang bergerak seperti kipas angin, melompat-lompat, tidak bisa diam, impulsif, perhatian mudah beralih, mudah marah, emosi berlebihan, gangguan tidur, gangguan makan, sembelit, tidak mengerti konsep bahaya seperti berjalan di jalanan yang ramai, takut pada keramaian, kurang bereaksi atau terlalu bereaksi terhadap rangsangan saraf seperti hipersensitif terhadap cahaya, suara, makanan tertentu bahkan vaksin tertentu, atau sebaliknya respons hiposensitif (seperti kurangnya kemampuan merasakan dan mencium).

Setiap anak autisme mempunyai “keunikan” sendiri-sendiri dan gejala autisme pada setiap anak dapat berbeda-beda sehingga penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi anak tersebut. Variatifnya gejala autisme pada setiap anak tersebut memerlukan diagnosa khusus yang ditunjang oleh pemeriksaan laboratorium mencakup rambut, feses, urine, darah, gelombang otak, dan sebagainya.

Intervensi Terapi
Adakah obat untuk menyembuhkan autisme? it isn’t curable but treatable (tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat ditanggulangi). Menurut Majalah Time USA edisi May 2002, tidak ada obat untuk menyembuhkan autisme namun ada sejumlah perawatan yang dapat menolong. Selama ini obat yang diberikan untuk mengatasi autisme berupa obat antipsikotik yang berefek sebagai pengatur kadar emosional. Padahal, pemberian obat semacam antipsikotik hanya cenderung menjadikan anak lebih pasif dan memungkinkan mengalami penurunan inteligensi. Sejauh ini belum ada kejelasan bahwa obat-obatan tertentu dapat memberikan kemajuan dalam mengatasi perilaku autistik. Begitu juga dengan suplemen yang banyak digunakan untuk anak autisme belum bisa dipastikan efektivitasnya.

Hakikatnya, anak autisme memerlukan perawatan atau intervensi terapi secara dini, terpadu, dan intensif. Dengan intervensi terapi yang sesuai, penyandang autisme dapat mengalami perbaikan dan dapat mengatasi perilaku autistiknya sehingga mereka dapat bergaul secara normal, tumbuh sebagai orang dewasa yang sehat dan dapat hidup mandiri di masyarakat. Berbagai macam terapi yang dapat menolong yaitu :

  1. Terapi Wicara
    Suara, kata-kata, kalimat dapat diajarkan pada anak autisme sesuai dengan kemampuan anak. Terapi wicara diharapkan dapat membantu anak autis yang mengalami gangguan bicara dan komunikasi. Dengan kemampuan berkomunikasi antara lain anak autisme akan terhindar dari tantrum dan menumbuhkan keyakinan bahwa dia tidak sendiri dan ada orang-orang yang menyayanginya. Komunikasi juga menyangkut pemahaman dan pengertian mengenai apa yang disampaikan orang lain, termasuk bagaimana meresponsnya sehingga terjadi interaksi.
  2. Terapi Perilaku/Metode Lovaas
    Merupakan terapi perilaku melalui pelatihan dan pendidikan yang melibatkan keluarga dan orang terdekat. Program ini diajarkan secara sistematik, terstruktur dan terukur dengan jadwal yang telah disusun. Diharapkan anak dapat mempunyai perilaku yang baik dalam merespons, berinteraksi dengan orang lain dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya.
  3. Terapi okupasi
    Membantu integrasi sensorik dan keterampilan motorik agar dapat melakukan kegiatan lebih aktif, terarah, dan terpadu. Dengan aktif bergerak, metabolisme tubuh menjadi lebih baik, demikian juga dengan detak jantung dan pencernaan yang menjadi lebih baik. Terapi ini juga dapat digunakan untuk pelatihan emosional anak. Tujuan terapi okupasi adalah pengembangan aktivitas fisik, intelektual, sosial, emosi, maupun kreativitas.
  4. Terapi okupasi
    Membantu integrasi sensorik dan keterampilan motorik agar dapat melakukan kegiatan lebih aktif, terarah, dan terpadu. Dengan aktif bergerak, metabolisme tubuh menjadi lebih baik, demikian juga dengan detak jantung dan pencernaan yang menjadi lebih baik. Terapi ini juga dapat digunakan untuk pelatihan emosional anak. Tujuan terapi okupasi adalah pengembangan aktivitas fisik, intelektual, sosial, emosi, maupun kreativitas.
  5. Terapi Integrasi Sensorik
    Terapi ini dirancang untuk memberikan perangsangan vestibular (keseimbangan), propioseptip (gerak, tekan & posisi sendi otot), taktil (raba/sentuhan), auditori (pendengaran), dan visual (penglihatan). Anak autisme dilatih menghadapi sensitivitas indera. Terapi ini berbentuk permainan, sehingga terapi integrasi sensorik dan aktivitas sosial yang dijalani anak bersifat rekreasi. Terapi ini meliputi juga terapi sentuhan ; setiap anak autisme membutuhkan pelukan, sentuhan, rasa aman, dan kasih sayang.
  6. Intervensi Biomedis
    Tujuan dari intervensi biomedis adalah memperbaiki metabolisme tubuh dengan obat, vitamin, suplemen, makanan dan terapi diet, juga mengeluarkan logam berat (kelasi).
  7. Terapi Diet
    Mengatur pola makan, mencakup jenis makanan, porsi, dan cara pengkonsumsian. Orang tua/keluarga seharusnya mengenal betul jenis makanan apa saja yang dapat menyebabkan efek negatif seperti alergi, intoleransi terhadap makanan, hiperaktif, dan lain-lain sehingga tidak sampai salah dalam menyuguhkan makanan. Terapi diet sangat penting sebab jenis makanan yang dikonsumsi sangat berpengaruh terhadap anak autisme. Apabila diet dilanggar dapat memperparah perilaku autistiknya.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s