Teori perencanaan latihan

Posted: May 16, 2010 in kuliah
Tags:

I.    TEORI PERENCANAAN LATIHAN

1.    Pentingnya Perencanaan dan Peranan Latihan
Penyusunan suatu rencana mencerminkan suatu kesimpulan yang dimilikinya, yang diperoleh dari pengetahuannya disemua bidang yang berkaitan dengan pendidikan jasmani, dan pertimbangan terhadap potensi yang dimiliki atlitnya, percepatan perkembangan prestasi, sarana dan prasarana yang tersedia. Rencana latihan harus obyektif dan berdasarkan atas prestasi actual atlitnya dalam tes maupun pertandingan.

2.    Persyaratan Umum Latihan
Menyusun suatu rencana latihan, harus mengikuti persyaratan tertentu yang menunjukkan dasar-dasar proses persyaratan. Beberapa persyaratan yang perlu mendapatkan pertimbangan pelatihan yaitu sebagai berikut :
a.    Rencana Jangka Panjang Harus Terkait Dengan Rencana Yang Berlaku
Sejumlah rencana-rencana latihan sangat diperlukan, karena ketrampilan serta prestasi selalu berkembang dan tidak pernah berhenti dan mempertimbangkan kecepatan perkembangan prestasi, mencoba meramalkan tentang berapa tinggi prestasi yang harus dicapai dimasa yang akan datang.
Tujuan jangka panjang dipedomani oleh parameter-parameter serta isi latihan yang dimasukkan dalam siklus makro dan mikro rencana tahunan. Beberapa pendekatan hendaknya dicari tidak hanya pada atlit yang top saja, tetapi secara khusus pada anak-anak dan remaja sebagai jaminan adanya pengarahan yang mencukupi.
b.    Pembentukan Dan Penekanan Faktor Latihan Utama Atau Komponen
Selam latihan pelatih harus berusaha memberikan penekanan yang berimbang atau sesuai dengan kebutuhan atlitnya. Faktor latihan juga harus diberi penekanan yang sama seperti pada volume mapun intensitas latihannya. Selama masa pertandingan dan test, pelatih harus dapat mengetahui level perbaikan maupun tingkat prestasi si atlit, sesuai dengan tujuan perencanaan latihan pada masing-masing fase yang sedang berlangsung.
Faktor latihan yang perkembangannya berada dibawah rata-rata kecepatannya, dianggap sebagai titik terlemah dalam latihan. Setelah titik itu diperbaiki, selanjutnya pelatih menyesuaikan program latihannya.
c.    Pencapaian Tujuan Berdasarkan Perencanaan Yang Berirama
Penentuan tujuan latihan, faktor latihan serta standar test pada setiap fase latihan, akan membatasi bentuk pendekatan latihan yang dilakukan secara asal-asalan saja. Cara pendekatan tersebut bisa saja terjadi dan diabaikan oleh pelatih. Tindakan ini jelas akan menurunkan kemampuan prestasi maupun kesejahteraan si atlit. Oleh karena itu seseorang harus berusaha keras untuk mencapai suatu set standar tertentu atau tujuan prestasi dalam rangka memaksimalkan potensi dalam memperoleh keberhasilan dalam latihannya.

3.    Jenis Perencanaan Latihan
Rencana jangka pendek yang dipakai pelatih berupa rencana jam latihan. Walaupun pendekatan tersebut sedikit berbau metodologis, penyederhanaannya, kemajuan serta diskripsi tentang latihan akan diulang kembali, yaitu dimulai dengan jam latihan (satuan latihan).
A.    Jam Latihan (Satuan Latihan)
Jam latihan digunakan untuk penyempurnaan teknik, direncanakan hanya untuk atlik yang berketrampilan tekniknya sudah mencapai tingkat yang mencukupi, seperti yang berlaku pada program latihan atlit elit.
Jam latihan yang diatur dalam beberapa bentuk, bertujuan untuk memberikan akomodasi terhadap kelompok atlit maupun individual.
Pada umumnya 2 jam lamanya jam latihan tergantung dari tugas yang harus diselesaikan, jenis, bentuk kegiatan serta tingkat kemampuan persiapan fisik atlit itu sendiri. Panjangnya pengajaran tergantung dari jumlah penggulangan yang harus dilakukan serta lamnya istirahat diantara pengulanggannya.
1.    Struktur Jam Latihan
a.    Pengarahan/pengenalan
Pelatih juga harus mencoba meningkatkan motivasi atlitnya, karena dengan cara itu si atlit dapat di rangsang untuk mencapai tujuan tersebut. Berikutnya pelatih mengatur kelompok besar menjadi bagian yang lebih kecil sesuai dengan tujuan individualnya.
Pelatih harus selalu siap untuk setiap jam latihan. Tidak jarang pelatih harus memiliki buku pegangan (hand out) ringkasan, terutama yang berkaitan dengan posisi dalam latihan yang mandiri. Beberapa metode seperti itu tidak saja berperan dalam meningkatkan organisasi latihan. Hal ini dapat membawa perasaan si atlit, bahwa pelatihnya percaya akan kemampuan serta kedewasaannya, membantu mereka dalam mengembangkan saling percaya mempercayai serta semangatnya.
b.    Persiapan/pemanasan
Ozolin (1971), menyatakan pemanasan itu perlu dilakukan karena sistem organisme pada waktu istirahat memiliki inersia tertentu dan seseorang hendaknya tidak membiarkan efisiensi fungsi seseorang ditingkatkan secara tiba-tiba. Oleh sebab itu, ada waktu tertentu yang diperlukan untuk mencapai keadaan efisiensi fisiologis yang tinggi. Ini merupakan tujuan pemanasan dalam mencapai atau mendekati keadaan ini dalam menghadapi pertandingan..
c.    Bagian Inti
Isi latihan inti tergantung dari berbagai macam factor, selain dari derajat latihan, jenis olahraga, sex, usia dan fase latihan memainkan peran yang sangat penting. Pada latihan yang menuntut pemakaian potensi atlit yang penuh, yang tidak dapat dilakukan kecuali pada kondisi yang benar-benar segar dan pada kondisi relative istirahat saja. Atlit yang berada dalam keadaan istirahat, dapat lebih banyak berkonsentrasi dengan lebih mudah terhadap tugas yang akan dilakukan.
d.    Bagian Akhir/kesimpulan
Pada menit-menit akhir bagian pengajaran ini, pelatih harus mengemukakan kesimpulannya, apakah tujuan latihan telah tercapai atau belum. Walaupun kesimpulan ini tidak harus selalu dilakukan setiap kali latihan, tetapi harus dipertimbangkan sebagai suatu bagian yang integral dari pengajaran. Bagian pelajaran ini dapat memberikan sumbangan yang berarti untuk memecahkan persoalan-persoalan teknik, fisik maupun faktor psikologis dalam latihan.

2.    Lama Waktu Yang Dipakai Pada Setiap Bagian Pengajaran
Berikut ini berupa petunjuk yang dapat dipakai oleh para pelatih sebagai bahan pegangan.
Dalam jam latihan yang memiliki 4 bagian, waktu diatur sebagai berikut :
1.    Pengarahan/pengenalan     5 menit
2.    Persiapan     30 menit
3.    Bagian inti/utama     75 menit
4.    Kesimpulan     10 menit
Total     120 menit
3.    Kelelahan dan dan Petunjuk Metodologis Untuk Pelajaran
Setiap cabang olahraga memiliki ciri-cirinya sendiri serta menstimulir sistem syaraf pusat secara tidak proporsional, thus kelelahan juga merupakan manifestasi yang  tidak sama rata. Kelelahan sering timbul sejak awal latihan (dimana intake O2 serta pertukaran gas mencapai taraf yang tinggi), tapi bagi atlit yang benar-benar terlatih dapat menanggulanginya sepanjang tidak melampui batas fisiologis maupun psikologisnya. Jadi kalau batas ini terlewati, maka kapasitas kerja organismenya akan menurun.
Oleh karena itu selama proses belajar dan latihan, seseorang harus menggunakan pendekatan-pendekatan yang sistematis dan metodologi secara hati-hati, dengan mengikuti prinsip dan metode yang tersedia, kekhususan aktifitas sistem syaraf memburuhkan penyusunan terbatas pada tugas-tugas dan tujuan dalam latihan.
4.    Jam Latihan Tambahan
Dasar jam latihan tambahan terdiri dari tiga bagian, dengan pembagian waktu sebagai berikut : 1. Persiapan 5-10 menit, 2. Inti 20-45 menit dan 3. konklusi/kesimpulan 5 menit yang berjumlah 30-60 menit. Tujuan dan formal tiap bagian mengikuti konsep yang sama seperti pada jam latihan sebelumnya. Bagaimanapun juga untuk sebagian utama harus diperhatikan untuk tidak merencanakan lebih dari tujuan, karena hal ini akan realistic serta sesuai dengan waktu yang tersedia.

5.    Rencana Jam Latihan
Format jam latihan harus sederhana dan fungsional artinya bahwa rencana latihan itu sendiri menjadi alat yang penting untuk setiap atlit dan pelatih dalam upaya latihannya.

B.    Siklus Mikro
Didalam metodologi latihan, siklus mikro diartikan sebagai satu program latihan mingguan, dimana program tahunannya terjadi dalam satu cara tertentu sesuai dengan kebutuhan pemuncakkan untuk tujuan utama tahun yang bersangkutan/pertandingan.
1.Kriteria Dalam Merinci Satu Siklus Mikro
Kriteria untuk menentukan pelaksanaan latihan dalam siklus mikro dipertimbangkan sebagai faktor dominant atau kemampuan biomotorik khususnya cabang olahraga.
a.    Belajar dan menyempurnakan teknik dengan intensitas menengah
b.    Menyempurnakan teknik pada intensitas maksimal dan submaksimal
c.    Pengembangan kecepatan pada jangka waktu yang pendek (sampai batas kemampuannya)
d.    Pengembangan daya tahan anaerobic
e.    Memperbaiki kekiatan dengan menggunakan beban 90-100 % dari maksimal
f.    Pengembangan daya tahan otot dengan menggunakan beban menengah dan rendah
g.    Pengembangan daya tahan otot dengan intensitas tinggi dan maksimal
h.    Pengembangan daya tahan cardiorespiratory dengan intensitas menengah
Urutan tersebut diatas harus dipakai sebagai pegangan umum dan harus dilaksanakan sesuai dengan kekhususan cabang olah raga serta kebutuhan latihan atlit itu sendiri.
1.    Parameter Metodis Untuk Kompilasi Satu Siklus Mikro
Selama siklus mikro, latihan yang disusun untuk mengembangkan kemmapuan biomotorik harus diulangi dengan frekuensi yang bervariasi. Untuk mengembangkan daya tahan khusus dengan intensitas sub maksimal, tiga kali dalam seminggu sudah dianggap mencukupi, sedangkan daya tahan khusus dengan intensitas maksimal selama frase pertandingan, harus direncanakan dua kali seminggu dengan hari alinnya dapat dipakai untuk berlatih dengan intensitas yang lebih rendah.
2.    Kriteria Untuk Menyusun Siklus Mikro
Upaya penyusunan siklus mikro harus mempertimbangkan banyak faktor, diantaranya yang sangat pokok sebagai berikut :
a.    Tentukan tujuan-tujuan setiap siklus mikro, khususnya untuk faktor latihan yang dominan
b.    Putuskan apakah akan memakai siklus mikro perkembangan (DMC) siklus mikro tuning (TMC) untuk mempertahankan derajat latihan yang sudah diperoleh/siklus mikro yang lebih rendah terhadap kebutuhan pertandingannya (tidak berbeban)
c.    Tentukan tingkat kerja mutlak untuk dipakai dalam latihan, seperti jumlah acara latihan, volume, intensitas dan komplesitas latihannya
d.    Tentukan tingkat usaha relatif untuk siklus mikro berapa banyak puncaknya dan pertukaran acara latihan yang kurang intensif
e.    Putuskan sifat-sifat latihan, diartikan diartikan kepada jenis metode dan alat latihan yang dipakai berdasarkan rencana latihannya
f.    Tentukan hari-hari test dan pertandingan kalu mungkin diterapkan dipakai berdasarkan rencana tahunan
g.    Satu siklus mikro sering dimulai dengan intensitas rendah atau menengah dan selanjutnya ditingkatkan sesuai intensifikasi peningkatan secara bertahap.
h.    Menjelang pertandingan penting, seseorang harus menggunakan siklus mikro satu puncak saja, yang harus dapat dicapai dalam 3-5 hari sebelum awal pertandingan dimulai.
3.    Klasifikasi Siklus Mikro.
Siklus mikro disusun berdasarkan jumlah jam latihan yang direncanakan dalam minggu-minggu yang khusus. Secara nyata, jumlah jam latihan tergantung dari tingkatan persiapan atlit mengikuti program umum club maupun dalam berkemah. Ketersediaan waktu latihan akan memainkan peranan yang sangat penting.
4.    Tanda Angka Untuk Intensitas Yang Dipakai Untuk Merencanakan Satu Siklus Mikro.
Pelatih harus merencanakan prosentase latihan untuk setiap intensitas latihan yang akan diberikan dalam siklus mikro. Persentase paling tinggi dari latihan, harus dislokasikan untuk pengembangan kemampuan yang dominan pada cabang olah raga yang bersangkutan.
5.    Siklus Diurnal Latihan Olah Raga
Untuk memaksimalkan waktu untuk tujuan latihan, seseorang harus mengatur jadwal diurnalkan secara hati-hati dan efektif. Seseorang tidak boleh lupa bahwa atlit menginginkan untuk berlatih dengan keras tetapi mereka juga membutuhkan waktu yang bebas untuk tujuan individunya, relaksasi serta kesenangan.
Contoh program diurnal dengan 3 acara latihan :
06.30     –     Bangun pagi
07.00-08.00     –     Acara latihan pertama (intensitas rendah)
08.30-09.00     –     Sarapan pagi
09.00-10.00     –     Istirahat
10.00-12.00     –     Acara latihan kedua
12.00-13.00     –     Teknik pulih asal dan istirahat
13.00-14.00     –     Makan siang
14.00-16.00     –     Istirahat
16.00-18.00     –     Acara latihan ketiga
18.00-19.00     –     Teknik pulih asal dan istirahat
19.00-19.30     –     Makan malam
19.30-22.00     –     Acara bebas
22.00-     –     Tidur
6.    Model Siklus Mikro Yang Memiliki Pertandingan
Untuk memudahkan pencapaian prestasi yang baik, struktur siklus mikro terakhir dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan khusus pertandingan serta penyesuaian fisiologis dan psikologis atlitnya. Model itu mengkaitkan acara latihan dengan intensitas yang bervariasi dimana perubahan latihan tersebut terjadi antara aktif dan pulih asal an dimaka siklus diurnal hendaknya disamakan terhadap hari pertandingan.
Untuk itu dilanjutkan bahwa model siklus mikro tidak perlu dirubah, khususnya apabila pertandingan tidak mengakibatkan masalah serius dalam kualifikasi atlit untuk pertandingan utama.

C.    Siklus Makro
Dalam metodologi latihan siklus makro yang dinyatakan suatu fase latihan dengan waktu antara 2-6 minggu.
1.    Kriteria yang dipakai untuk menyusun siklus makro
Untuk fase persiapan, kriteria pokok adalah tujuan dan jenis latihan yang dipakai dalam latihan yang berbeda dari tahap latihannya. Untuk fase pertandingan, penyusunan setiap siklus tergantung dari kalender pertandingan. Fase pertandingan khususnya pada cabang olahraga individual harus dibagi sedemikian rupa, kalau mungkin setiap pertandingan harus jatuh diakhir siklus makro.
2.    Komponen siklus makro
Tujuan komponen siklus makro mengacu kepada perbaikan prestasi dalam pertandingan atau test khusus, seperti factor latihan yang direncanakan untuk siklus makro.

3.    Pertimbangan struktur siklus makro.
Struktur yang disesuaikan memiliki banyak bentuk. Seringkali kalaupun tidak semuanya, semua siklus makro memiliki intensitas yang seragam, khususnya dalam fase belajar. Selama fase persiapan, mayoritas siklus makro berisikan satu siklus mikro, harus bercirikan pengembangan. Disamping itu khusus pada fase pertandingan, suklus makro harus termasuk didalamya suatu siklus makro mempertahankan kondisi, tanpa harus melihat apakah ada pertandingan atau tidak.

II.    MUSIM-MUSIM LATIHAN

1.    Musim Persiapan
Pada tahap-tahap awal musim ini kita juga harus sudah mulai dengan latihan taktik-taktik permainan, meskipun taktik pertahanan dan penyerangan yang dilatih masih yang sederhana. Taktik-taktik dasar dalam musim latihan berikutnya makin lama makin rumit dan kompleks. Setelah ketrampilan dalam taktik-taktik dasar berkembang dengan baik, maka latihan-katihan kemudian ditekankan pada penyempurnaan dari taktik-taktik tersebut serta perkembangan ketrampilan individu dan tim menjadi suatu kesatuan gerak yang sempurna.
Test-trials dan pertandingan-pertandingan kecil-kecilan serta pertandingan-pertandingan persahabatan juga bisa dilakukan dalam musim ini. Test trials dan pertandingan-pertandingan persahabatan tersebut bisa dipergunakan sebagai umpan balik (feedback) dan evaluasi latihan selama ini.

2.    Musim Pematangan Juara
Dalam musim latihan ini atlit diharapkan sudah berada dalam kondisi fisik yang baik. Demikian pula dalam ketrampilan teknisnya.
Musim ini merupakan musim yang terberat bagi atlit. Oleh karena itu dalam musim ini atlit harus benar-benar dipersiapkan fisiknya, dan sudah menyempurnakan asprk-aspek teknik, taktik, maupun sikap mentalnya terhadap cabang olahraganya.

3.    Musim Sesuai Pertandingan
Post Season adalah masa latihan setelah pertandingan-pertandingan berakhir.
Dalam masa “relax training” ini, foto-foto dan fil-fil dari latiha-latihan dan pertandingan-pertandingan yang lalu diputar kembali. Teknik, gerakan dan gaya setap atlit dievaluasi, didiskusikan, dan dianalisis untuk kemudian bilamana perlu, diadakan dan dipraktekkan perubahan-perubahan dalam teknik maupun gerakan-gerakan motorik dan gaya yang pandang salah atau dianggap perlu untuk diperbaiki, diubah atau disempurnakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s