Tinjauan Neurofisiologis anak autis dan hiperaktif

Posted: June 2, 2010 in Pengetahuan
Tags:

Sistem Saraf

Sistem saraf merupakan sistem yang mengatur perasaan, cara berpikir dan pengendalian tubuh kita. Sistem saraf terbagi dalam 2 sistem, yaitu:

* Sistem saraf pusat
a. Otak
Merupakan daerah integrasi utama sistem saraf, yaitu sebagai tempat penyimpanan memori, terjadinya pemikiran, pengaturan emosi, dan fungsi lain yang dikaitkan dengan kejiwaan dan pengendalian tubuh.

b. Medula spinalis
Berfungsi sebagai tempat transfer ke dan dari otak, daerah integrasi untuk koordinasi banyak kegiatan saraf di bawah sadar, seperti refleks menarik bagian tubuh menjauhi perangsangan yang menyakitkan, dll.

* Sistem saraf perifer
a. Serat aferen: untuk mengantarkan informasi sensorik ke sistem saraf pusat
b. Serat eferen: untuk menghantarkan sinyal motorik yang berasal dari sistem saraf pusat.

Saraf tersebar di seluruh tubuh untuk mengatur seluruh aktivitas tubuh. Berdasarkan jenis aktivitas yang dilakukan, saraf dibedakan menjadi 2 :

* Saraf somatik: untuk mengatur gerakan yang sesuai dengan kemauan kita, misalnya menggerakkan tangan, melangkahkan kaki, dan lain-lain.

* Saraf vegetatif (saraf autonom): untuk mengatur gerakan bawah sadar seperti denyut jantung, gerakan usus, dan lain-lain. Saraf autonom tediri dari saraf simpatik dan parasimpatik yang kerjanya saling berlawanan. Saraf simpatik mempunyai sifat mengaktifkan sedangkan saraf parasimpatik bersifat menurunkan aktivitas. Hal ini berkaitan dengan regulasi dalam tubuh untuk menstabilkan kerja organ yang berlebihan dan yang kurang aktif.

Saraf tersusun atas sel-sel saraf yang disebut dengan neuron. Di dalam susunan saraf pusat, informasi dikirimkan melalui serangkaian neuron dalam impuls saraf, berupa hantaran listrik. Hubungan antara satu neuron dengan neuron lain disebut dengan sinaps.


Pola Fungsional Sistem Saraf
Fungsi utama sistem saraf yaitu mengatur aktivitas tubuh, terutama otot-otot, sebagai pusat pengatur emosi, dan lain-lain. Untuk melaksanakan tugas yang beraneka ragam tersebut, berdasarkan fungsinya, sistem saraf dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

* Bagian sensorik
Bagian sensorik bekerja melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Bagian sensorik menghantarkan informasi dan rangsangan dari seluruh permukaan dan struktur dalam tubuh ke dalam sistem saraf  melalui saraf spinal dan saraf kranial. Sinyal-sinyal tersebut selanjutnya diteruskan ke hampir semua bagian lain sistem saraf yang akan menganalisa dan mengolah informasi sensorik tersebut.

* Fungsi motorik
Mengendalikan kegiatan-kegiatan tubuh, meliputi pengendalian kontraksi semua otot tubuh, otot polos  dan alat-alat dalam tubuh serta sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin. Fungsi motorik dilakukan dengan cara membawa informasi (sinyal saraf) yang berasal dari daerah sentral sistem saraf ke bagian motorik di seluruh tubuh.

* Fungsi integrasi
Mengolah informasi untuk menentukan kegiatan motorik tubuh yang tepat serta mengolah pemikiran abstrak. Beberapa daerah di otak menangani penyimpanan informasi yang disebut memori, sedangkan daerah lain menilai informasi sensorik untuk menentukan pertimbangan sehingga diperoleh jawaban motorik yang tepat terhadap informasi berupa rangsang sensorik. Pada saat keputusan diambil, sinyal dihantarkan ke pusat motorik untuk menyebabkan gerakan motorik. Sebagai pelaksana gerakan motorik adalah otot-otot tubuh yang akan melakukan gerakan.
Fungsi Otak dalam Sistem Perilaku

Tingkah laku merupakan fungsi seluruh sistem saraf.  Tingkah laku khusus yang berhubungan dengan emosi, dorongan motorik dan sensoris bawah sadar, dan perasaan intrinsik mengenai rasa nyeri dan kesenangan diatur oleh fungsi sistem saraf yang dilakukan oleh struktur subkortikal yang terletak di daerah basal otak yang disebut dengan sistem limbik.

Struktur sentral serebrum basal dikelilingi korteks serebri yang disebut korteks limbik. Korteks limbik diduga berfungsi sebagai daerah asosiasi untuk pengendalian fungsi tingkah laku tubuh dan sebagai gudang informasi yang menyimpan informasi mengenai pengalaman yang lalu seperti rasa nyeri, senang, nafsu makan, bau, dan sebagainya. Gudang informasi selanjutnya disalurkan ke daerah limbik. Asosiasi informasi ini diduga merupakan perangsangan untuk mencetuskan jawaban tingkah laku yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi seperti marah dan lain-lain.

Posisi sistem limbik merupakan batas antara diensefalon dan serebrum. Bagian sistem limbik adalah hipokampus, amigdala, dan talamus yang menghantarkan bagian terbesar sinyalnya ke hipokampus dan menyebabkan efek  seperti perasaan senang, perasaan yang dihubungkan dengan makan, marah, dan sebagainya. Amigdala bekerja sama dengan hipotalamus juga berperan penting dalam mengendalikan pola tingkah laku. Amigdala memainkan peranan utama dalam mengendalikan pola tingkah laku tubuh secara menyeluruh.

Beberapa fungsi otak dalam mengatur perilaku antara lain dalam menjalankan fungsi intelektual, fungsi bahasa, fungsi komunikasi, dan lain-lain.

Berikut ini fungsi otak dan gangguan pada bagian otak yang berpengaruh terhadap tingkah laku dan proses berpikir.

Fungsi Intelektual

Yang berperan dalam kemampuan intelektual adalah prefrontal korteks serebri yang merupakan bagian anterior otak. Jika bagian tersebut rusak, kemampuan intelektual akan menghilang, terutama kemampuan untuk berpikir secara abstrak. Kerusakan daerah Wernicke pada orang dewasa dapat merusak fungsi intelektualnya, sebab daerah Wernicke sangat penting untuk fungsi intelektual otak. Jika hubungan neuronal rusak, bagian lain otak tidak dapat berfungsi secara optimal.

Area Wernicke juga disebut daerah integrasi umum, daerah gnostik yang berarti  “daerah tahu” (knowing area). Semua pemikiran dan informasi dari daerah sensorik yang berbeda-beda dihubungkan dan dipertimbangkan dalam area Wernicke, untuk mengambil keputusan lebih matang. Pada umumnya, semua informasi yang sampai di otak akhirnya disalurkan melalui area Wernicke. Oleh karena itu, kerusakan di daerah ini dapat membuat seseorang bermental aneh dan menjadi sangat bingung.
Berpikir secara kompleks menjadi sangat kacau jika daerah Wernicke rusak. Selain berfungsi dalam proses intelektual dan berpikir, area Wernicke juga berperan penting dalam proses berbicara dan berkomunikasi.

Fungsi Komunikasi

Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain juga diatur oleh otak. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan untuk menginterpretasi bahasa dan kemampuan menerjemahkannya ke dalam bentuk bicara. Fungsi komunikatif diatur dan terintegrasi di semua bagian serebrum.

Berikut ini urutan dalam proses komunikasi:

1.      Interpretasi gagasan

Gagasan biasanya dikomunikasikan dari seseorang ke orang lain melalui suara atau kata-kata tertulis.

2.      Fungsi motorik berbicara

Area Wernicke juga mengembangkan pikiran-pikiran yang ingin disampaikan kepada orang lain. Area Wernicke bekerjasama dengan area Broca dan bagian otak lain dalam memformulasikan pikiran dan perasaan ke dalam bahasa (Lihat proses berbicara dan berbahasa yang telah diuraikan di atas).

3.      Kemampuan untuk memperhatikan

Dalam sebuah komunikasi juga diperlukan kemampuan untuk memperhatikan lawan bicara sehingga terjadi komunikasi timbal balik yang berjalan lancar. Hipokampus yang merupakan bagian sistem limbik, memegang peranan dalam menentukan perhatian.

Studi Neurofisiologis

Berbagai macam kondisi neuropatologis (kelainan sistem saraf) diduga sebagai penyebab autisme. Beberapa peneliti juga mengungkapkan bahwa area tertentu di otak penyandang autisme mengalami disfungsi (gangguan fungsi). Dugaan ini diperkuat oleh persamaan antara perilaku anak autisme dan orang dewasa yang mengalami lesi otak (luka pada otak). Disfungsi otak  terjadi pada beberapa bagian, seperti mesokorteks (meliputi lobus temporal frontal dan neostriatum), sistem pengolahan sensorik yang mengatur perhatian yang terarah (meliputi batang otak dan struktur diensefalon), serebelum, dan bagian lain otak.

Studi autopsi pada orang dewasa autisme menunjukkan perubahan seluler pada amigdala dan hipokampus (bagian dari sistem limbik yang mengatur perilaku), yaitu struktur yang terletak di bagian lobus temporal. Neuron pada bagian hipokampus berukuran 1/3 lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak dan lebih rapat.

Studi lain menunjukkan gejala autisme pada anak setelah bagian lobus temporalnya mengalami kerusakan akibat penyakit herpes simplex encephalitis. Bukti lain yaitu tidak adanya lobus temporalis yang tampak di CT (Computed Tomographic) pada anak autisme usia 3 tahun dan terdapat kerusakan struktur lobus temporalis pada anak autisme usia 3 tahun yang lain. Sebuah penelitian lesi (luka) pada struktur lobus temporal pada hewan menyebabkan hiperaktivitas, terganggunya interaksi sosial, gerakan stereotip (gerakan yang diulang-ulang dan tidak mempunyai tujuan), kurangnya respons terhadap rangsangan, dan hilangnya variabilitas perilaku.

Studi autisme pada setiap anak dan orang dewasa autisme yang berbeda menunjukkan abnormalitas pada bagian otak yang berbeda. Abnormalitas dapat dijumpai pada beberapa bagian, misalnya lobus frontal, sistem limbik (yang bertanggung jawab terhadap pengaturan emosi), atau dalam batang otak dan ventrikel keempat, serebelum (yang berperan dalam koordinasi motorik), dan lain-lain.

Anak autisme mempunyai anatomi otak yang berbeda dengan anak normal. Berdasarkan penelitian Dr. Margaret Bauman, seorang neurologis pediatrik, sel-sel pada sistem limbik penyandang autisme lebih kecil, mengelompok, dan tampak tidak matang dibandingkan sel-sel pada sistem limbik orang normal.

Abnormalitas juga dijumpai pada serebelum penyandang autisme yaitu jumlah sel-sel Purkinje lebih sedikit daripada orang normal. Menurut neurocientist Eric Courchesne, sel-sel Purkinje merupakan elemen penting dalam sistem integrasi informasi yang masuk ke dalam otak. Tanpa sel-sel ini, serebelum tidak dapat melakukan fungsinya, menerima banyaknya informasi dari dunia luar, dan lain-lain.

Studi autopsi lain pada pasien autisme menunjukkan adanya penurunan sebesar 90 % jumlah sel-sel Purkinje dan sel granula pada kedua hemisfer serebral, baik hemisfer kanan maupun hemisfer kiri. Berkurangnya sel-sel Purkinje pada serebelum diduga menyebabkan ketidakteraturan (disregulasi) beberapa fungsi yang menyebabkan abnormalitas pada anak autisme, yaitu gangguan pengolahan sensorik.

Comments
  1. Shazia says:

    Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak Rumah Sahabat Yogyakarta melayani terapi autism, terlambat bicara, ADHD, Down syndrom, musik, renang dengan terapi terpadu, speech terapi, sensori integrasi, terapi perilaku, fisioterapi dll. untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi Rumah sahabat di Perum Gambiran C 2 UH V, Jl Perintis Kemerdekaan Yogyakarta phone 0274 8267882

  2. harmie says:

    terimakasih untuk informasinya,,kalau ada yang berminat bisa saya saankan ke tempat terapi yang ada di yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s